MELEPUH DIANTARA BINGKAIAN SENYUM
“Neten limak di nala nabe gelauta, tapin mayan di ata
ra’a hulenek hala, Ina Ama, susah titen hama ata hala, tudak titen sampe hama
nepi sampe na’a louk goka pia tanah sina jawa tapi tabe ta’a ro aku, go peroi,
go kura onek hala Ema Bapa, nasip titen alate teti taoro kae. Go bisa hala ka’a
mio geka gerenga ma’a belebhi, tuen mabe pete kodhak ma’a ba’ate tali”.
“Melepuh di antara bingkaian senyum,
runtuh di antara kokohnya sandaran perjuangan, pergi menghilang,
lenyap enta ke mana. Mungkinkah itu Aku ??? Pernahkah berfikir hidup adalah
mati bila sandaran perjuangan itu tetap
runtuh tanpa niat,
pengorbanan dan perjuangan untuk menopangnya kembali dan
apakah api perjuangan ini di biarkan padam ketika cucuran
air mata derita harus dan terus mengalir membasahinya ??? Ingat, Cucuran air
mata bukanlah penghalang, bukan berarti seseorang tak mampuh lagi
menahan sakitnya perjuangan hidup
tapi itu adalah pertanda bahwa API PERJUANGAN terus
berkobar di antara derasnya cucuran AIR MATA PENDERITAAN ”.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan